Sumenep – Krisis air bersih yang berkepanjangan akhirnya memicu reaksi warga di Kecamatan Kalianget. Ratusan warga dari Desa Karanganyar dan Pinggir Papas mendatangi kantor PDAM setempat pada Rabu (25/3/2026), guna menuntut kejelasan atas terhentinya distribusi air yang telah berlangsung selama enam hari.
Kedatangan warga bukan tanpa alasan. Sejak aliran air berhenti total, berbagai aktivitas rumah tangga menjadi terganggu. Mulai dari kebutuhan memasak, mencuci, hingga sanitasi sehari-hari tidak dapat berjalan normal. Sebagian warga bahkan terpaksa mencari sumber air alternatif dengan jarak yang cukup jauh.
Dalam suasana pertemuan yang berlangsung cukup serius, warga menyampaikan keluhan mereka secara langsung. Mereka berharap ada penjelasan terbuka sekaligus solusi nyata dari pihak PDAM, bukan sekadar janji tanpa kepastian waktu.
Salah satu warga, Nurul Hidayatullah, SH, menegaskan bahwa masyarakat hanya menginginkan kejelasan. Menurutnya, kondisi tanpa air selama hampir sepekan sangat menyulitkan, terlebih bagi keluarga yang tidak memiliki cadangan air.
“Kami datang baik-baik hanya ingin kepastian. Sudah enam hari air tidak mengalir sama sekali, sementara kebutuhan hidup terus berjalan,” ujarnya dengan nada tegas.
Menanggapi keluhan tersebut, pihak PDAM menjelaskan bahwa gangguan distribusi air disebabkan oleh menurunnya debit air dari sumber utama di Kermata. Saat ini, debit air hanya berada di angka sekitar 8,5 liter per detik, jauh dari kondisi normal, sehingga berdampak langsung pada tersendatnya pasokan ke pelanggan.
Sebagai langkah penanganan darurat, PDAM akan mengerahkan mobil tangki untuk mendistribusikan air ke wilayah terdampak. Air dari tangki tersebut nantinya akan dialirkan ke jaringan pipa di titik-titik tertentu agar bisa dimanfaatkan oleh warga secara lebih merata.
Selain itu, PDAM juga tengah menyiapkan solusi jangka panjang berupa pembangunan tandon berkapasitas besar di wilayah Kertasada. Tandon ini direncanakan mampu menampung air hingga 800 sampai 1.000 meter kubik, yang diharapkan dapat membantu menjaga stabilitas pasokan air ke pelanggan, terutama saat terjadi gangguan seperti saat ini.
Namun, warga menilai langkah tersebut masih belum cukup jika tidak disertai dengan strategi distribusi yang tepat. Mereka pun mengusulkan agar PDAM segera menerapkan sistem pengaturan aliran dari sumber alternatif, yakni Taman Lakek.
Menurut warga, wilayah Karanganyar sebenarnya memiliki dua jalur distribusi, yakni dari Kermata dan Taman Lakek. Dengan sistem buka-tutup aliran yang terjadwal, diharapkan seluruh warga tetap bisa mendapatkan pasokan air meskipun secara bergiliran.
“Harus ada kebijakan teknis yang adil. Jangan sampai ada wilayah yang terus kekeringan sementara yang lain masih mendapatkan aliran,” tambah Nurul.
Di sisi lain, pada hari yang sama PDAM juga mulai melakukan pengisian serta pembangunan tandon sementara sebagai upaya darurat untuk menampung air selama proses normalisasi berlangsung.
Menariknya, dalam pertemuan tersebut muncul pernyataan tegas dari Direktur PDAM yang menyatakan siap bertanggung jawab penuh atas permasalahan ini. Bahkan, ia menyampaikan kesiapannya untuk mengundurkan diri dari jabatannya apabila tidak mampu menyelesaikan krisis air yang tengah dialami masyarakat.
Pernyataan tersebut sontak menjadi perhatian warga. Mereka berharap komitmen itu tidak hanya sebatas ucapan, melainkan diikuti dengan langkah nyata dan percepatan penanganan di lapangan.
Kini, masyarakat Kalianget hanya berharap satu hal sederhana: aliran air bersih dapat kembali normal secepatnya. Sebab bagi mereka, air bukan sekadar kebutuhan, melainkan penopang utama kehidupan sehari-hari.
