Sumedang, 30 April 2026 — Insiden tawuran antar pelajar yang melibatkan siswa SMPN 1 Tomo dan MTsN 5 Ujungjaya di wilayah hukum Polsek Tomo akhirnya diselesaikan melalui jalur mediasi. Pertemuan yang digelar di SMPN 1 Tomo pada Kamis (30/4) siang hingga petang itu menghadirkan unsur Muspika, aparat kepolisian, pihak sekolah, orang tua, serta para siswa yang terlibat.
Camat Tomo Risyana, S.STP, Kapolsek Tomo AKP Baban Kusbandi, perwakilan Danramil melalui Babinsa Serma Alif, serta jajaran Polres Sumedang termasuk Unit PPA turut hadir dalam forum tersebut. Pertemuan ini menjadi langkah cepat dan terkoordinasi untuk meredam konflik serta mencegah eskalasi lanjutan.
Kronologis kejadian bermula pada Jumat (24/4), ketika sekitar 16 siswa SMPN 1 Tomo diketahui mengonsumsi obat-obatan tanpa resep dokter. Pihak sekolah saat itu telah mengambil langkah awal dengan memanggil orang tua dan membuat surat pernyataan. Namun, situasi memanas pada Rabu (29/4) sekitar pukul 15.20 WIB, saat enam siswa SMPN 1 Tomo terlibat tawuran dengan siswa MTsN 5 Ujungjaya di Dusun Cikalong, Desa Tomo. Dalam insiden tersebut, para pelajar dilaporkan menggunakan senjata tajam jenis parang.
Menindaklanjuti kejadian tersebut, aparat kepolisian bersama unsur Muspika segera melakukan koordinasi lintas sektor. Para siswa yang terlibat kemudian dipanggil untuk dimintai klarifikasi, disertai pendampingan dari orang tua masing-masing.
Kapolsek Tomo AKP Baban Kusbandi menegaskan bahwa pendekatan yang dilakukan mengedepankan pembinaan dan perlindungan anak. “Kami bersama pihak terkait sepakat untuk menyelesaikan permasalahan ini melalui musyawarah kekeluargaan. Selain itu, kami juga merekomendasikan agar siswa yang terlibat mendapatkan pembinaan lebih lanjut, termasuk opsi penempatan di rumah aman,” ujarnya.
Sementara itu, Camat Tomo Risyana, S.STP menegaskan pentingnya peran bersama dalam mencegah kejadian serupa terulang. “Kami mengajak seluruh elemen masyarakat, khususnya orang tua dan pihak sekolah, untuk lebih meningkatkan pengawasan dan pembinaan terhadap anak-anak. Sinergi ini penting agar generasi muda kita tidak terjerumus pada perilaku negatif yang merugikan masa depan mereka,” tegasnya.
Hasil dari pertemuan tersebut menghasilkan kesepakatan damai antara kedua belah pihak. Para siswa yang terlibat bersama orang tua telah menandatangani surat pernyataan untuk tidak mengulangi perbuatannya. Pihak sekolah pun berkomitmen memperketat pengawasan serta meningkatkan pembinaan karakter siswa.
Kegiatan mediasi berakhir sekitar pukul 18.00 WIB dalam kondisi aman dan kondusif. Aparat memastikan akan terus melakukan pemantauan guna mencegah kejadian serupa terulang kembali.
Peristiwa ini menjadi pengingat pentingnya peran bersama dalam membina generasi muda, sekaligus mempertegas komitmen aparat dan pemerintah dalam menjaga keamanan serta ketertiban di tengah masyarakat.
Red

